Jelajahi dunia informasi & inspirasi bersama kami Subsafan.com

Kepemimpinan dalam Pandangan Islam

Kepemimpinan dalam Pandangan Islam - Pada ulasan terbaru dari blog SUBSAFAN !! kali ini, Akan menginformasikan teman teman pengunjung tentang Kepemimpinan dalam Pandangan Islam , Dimana Info yang sudah kami sajikan untuk anda dihalaman singkat ini, Diharapkan bisa terpenuhi semua kebutuhan anda pembaca yang sudah kunjung hadir dan tentunya memang sedang membutuhkan. Sebagai pengunjung halaman situs blog ini, anda juga bisa membaca beragam Artikel pemimpin Artikel pemimpin islam Artikel penggembala Artikel raain lain lebih banyak dengan cara melihat Isi Peta dari pada situs ini, Namun terlebih dulu silahkan lansung Membaca Artikel terbaru Kepemimpinan dalam Pandangan Islam yang sudah kami siapkan dibawah ini, Untuk mengingatkan kembali bahwa ulasan pada postingan Kepemimpinan dalam Pandangan Islam sangat disarannkan untuk bisa disebarluaskan ke social medi Anda, Semoga Bermanfaat, lansung lihat lebih jelas infonya dibawah ini.


KULUKUM RAAIN = Setiap kamu itu adalah pemimpin. Raain makna awalnya adalah penggembala. Orang yang melakukan pekerjaan sebagai penggembala. Kemudian kata penggembala ini dibawa oleh Rasulullah menjadi seorang pemimpin. Wa kulu rain mas’ulun ‘an roiyatihi = dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya tentang roiyahnya. Yaitu yang dipimpinnya. Roiyah kemudian berubah kedalam bahasa Indonesia menjadi rakyat.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim) 


Jadi, menurut konsep Islam, Pemimpin bukan hanya mempertanggungjawabkan kepada rakyat saja, tetapi juga kepada Allah SWT. Dan ini yang membedakan filosofi kemimpin islam denga sekuler atau mungkin dengan yang lainnya. Oleh karena itu Umar bin Khatab, sebagi khalifaf Amirul mukminin yang tinggal di Madinah, ketika mendengar ada seekor kuda yang tergelincir di jalan karena jalannya bolong-bolong, dan kuda itu mati, maka Umar bin Khatab langsung menangis dan mengatakan bagaimana aku nanti mempertanggungjawabkan kepada Alah? Ada jalan yang rusak sehingga ada kuda yang lewat disitu tergelincir dan mati.  Yang mati hanya seekor kuda tetapi membuat sang pemimpin menangis. Itulah seorang pemimpin.

Begitu juga ketika suatu malam Khalifah Umar sedang melakukan pemantaun di berbagai daerah, atau kalau istilah sekarang sedang blusukan (Umar sudah dari dulu blusukan tetapi tidak pernah bawa wartawan seperti pemimpin-pemimpin masa kini), Ketika dia melihat ada seorang ibu yang sangat miskin sedang menanak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang sedang kelaparan karena dia tidak memiliki gandum, maka Umar merasa bertanggung jawab, maka dia kembali ke Baitul Mal, dia ambil sekarung gandum dan dia panggul sendiri. Ketika Sahabat yang mengawalnya meminta untuk memanggul, Umar menolah dan berkata :

“Kamu tidak bisa membebaskan saya dari api neraka. Saya sendiri yang harus memanggul karena ini adalah tanggung jawab saya”

Mungkin ada yang mengatakan, ah, itu kan cuma cerita fiksi. Ini bukan kisah fiksi tetapi benar-benar  dialami oleh Umar bin Khatab. Juga khalifah-khalifah seperti Umar bin Abdul Azis, Ali bin Abi Thalib, dsb. mereka selalu membawa tanggung jawab kepemimpinannya itu bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada Allah. Nah, ini filosofi kepemimpinan di dalam islam.

Jika kita cermati, sebenarnya dari kata raain itu saja kita dapat mengambil filosofi kepemimpinan. Apa tugas dan fungsi seorang penggembala? Kita pasti sudah tahu, fungsi pertama seorang penggembala adalah menjaga, memelihara agar yang digembalakan itu ketika keluar dari kandang dan pulang ke kandang itu jumlahnya sama, jadi nggak ada yang dimakan Serigala, dsb. Jadi dia bertanggung jawab keselamatan dari yang digembalakannya. Pemimpin seharusnya juga begitu. Dia bertanggung jawab keselamatan atas yang dimpimpinnya. Coba bandingkan dengan keadaan sekarang?

Ada kisah seorang penggembala, seorang budak hitam, menggembalakan ribuan kambing di sebuah padang luas, Umar dan sahabat yang lain datang untuk menguji. Saya ingin beli satu kambingmu.
“Wah, ini bukan punya saya. Ini punya majikan saya hanya menggembala”. Kata penggembala itu.
“Ribuan kambing begini, mana dia tau kalau salah satu kambingnya saya beli dan kamu akan dapat uang. Dia tidak akan tahu!”
“Bagaimana dengan Allah?”Kata penggembala. “Majikan saya tidak melihat, tetapi Allah dimana? Apakah Allah tidak melihat?”

Nah, ini tanggung jawab seorang penggembala. Keselamatan dari yang digembalakannya. Hal seperti ini kalau kita bandingkan dengan realitas kepemimpinan sekarang barangkali sangat jauh. Kalau Umar karena hanya kuda mati tergelincir di jalan menangis karena takut kepada Allah, kalau pemimpin sekarang ribuan orang mati kebanyakan tidur nyenyak saja dia. Tidak merasa bersalah sama sekali. Tentu saja tidak semua begitu.

Setiap kamu adalah pemimpin. Setiap orang?  Memimpin apa? Paling tidak memimpin diri sendiri.  Bagaimana supaya diri kita ini terkendali. Karena setiap orang itu selalu punya keinginan-keinginan. Tugas memimpin bagi dirinya sendiri adalah mengendalikan keinginan-keinginan itu. Menurut teori imam Ghazali dalam diri manusia itu ada akal dan nafsu. Ketika nafsu mengalahkan akal, maka nafsunya itu menjadi nafsu amarah. Ketika akal mengalahkan nafsu, maka nafsu itu menjadi nafsu muthmainah. Ketika nafsu dan akal saling mengalahkan nafsu disebut nafsu lawammah. Ini adalah satu dinamika di dalam diri kita sebagai pemimimpin bagi diri kita. Itu akan terjadi perang terus. Antara keingian dan pengendalian yang dilakukan oleh akal kita. Kalau kita bisa mengendalikan keinginan-keinginan nafsu kita maka kita akan tergolong orang-orang yang mempunyai nafsu muthmainah (nafsu yang tenang).

Pengendalian diri dibutuhkan oleh setiap orang, pemimpin atau rakyat, kaya atau miskin, muda atau tua, laki-laki atau perempuan. Yang demikian itu dilakukan untuk memelihara eksistensi manusia dan kemanusiaannya. Sebab, salah satu kelemahan manusia yang paling mendasar adalah ketidakmampuan untuk mengendalikan diri!
Wallahu a’lam bi shawab! 









Demikianlah Artikel Kepemimpinan dalam Pandangan Islam , Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan Kepemimpinan dalam Pandangan Islam ini, Anda benar2 sudah menemukan informasi yang memang sedang dibutuhkan. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi Kepemimpinan dalam Pandangan Islam ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.

Back To Top
close