IJTIHAD SUATU KEGIATAN ILMIAH - Pada ulasan terbaru dari blog SUBSAFAN !! kali ini, Akan menginformasikan teman teman pengunjung tentang IJTIHAD SUATU KEGIATAN ILMIAH, Dimana Info yang sudah kami sajikan untuk anda dihalaman singkat ini, Diharapkan bisa terpenuhi semua kebutuhan anda pembaca yang sudah kunjung hadir dan tentunya memang sedang membutuhkan. Sebagai pengunjung halaman situs blog ini, anda juga bisa membaca beragam
Artikel ijtihad
Artikel ilmiah
Artikel kegiatan ilmiah
Artikel rattil lain lebih banyak dengan cara melihat Isi Peta dari pada situs ini, Namun terlebih dulu silahkan lansung Membaca Artikel terbaru IJTIHAD SUATU KEGIATAN ILMIAH yang sudah kami siapkan dibawah ini, Untuk mengingatkan kembali bahwa ulasan pada postingan IJTIHAD SUATU KEGIATAN ILMIAH sangat disarannkan untuk bisa disebarluaskan ke social medi Anda, Semoga Bermanfaat, lansung lihat lebih jelas infonya dibawah ini.
Kata ijtihad mempunyai konotasi dengan kata-kata jihad, juhud dan lain-lain, artinya bersungguh-sungguh, atau berusaha dengan sekuat usaha. Segala bentuk kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh termasuk dalam kategori kegiatan ijtihad, atau jihad. Alquran surat Al ‘ankabut ayat 69 menyatakan bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) menurut Allah pasti akan Allah tunjukkan petunjuk-NYA. Dengan demikian maka pada ayat itu penekanan dari ijtihad atau jihad adalah kesungguhan dalam rangka memahami petunjuk yang diberikan oleh Allah.
69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Dalam hubungannya dengan sektor keilmuan maka seorang yang mengadakan kegiatan di bidang ilmiah amat patut disebut Mujtahid atau Mujahid. Kalau ilmu yang dipelajari adalah ilmu Allah yakni Alquran menurut Sunnah Rasul maka ia adalah termasuk mujahidiin fi sabiilillah, sebaliknya apabila yang dipelajari adalah ilmu Allah, bidang kebendaan, berarti mujahidiin kebendaan.
Dalam surat Ali Imran ayat 190-191 Allah menyatakan bahwa dalam silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal:
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Dalam kaitannya dengan ijtihad, kegiatan yang paling berat adalah kegiatan dalam memerangi alam pikiran. Karena pantaslah kalau Rasulullah mengatakan bahwa kegiatan yang paling khair ( indah) dan bernilai ·positif adalah "balajar dan mengajar Alquran”.
جَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخارى)
"Sebaik-baik kamu ialah orang yang suka belajar Al-Qur'an dan mendidiknya kepada manusia." (HR. Bukhari: Tarjamah Riadhus Shalihin hlm. 554)
Objek dalam belajar dan mengajar yang paling pertama adalah untuk mengajar diri. Belajar Alquran berarti mengajarkan kepada diri sendiri dan orang lain agar mengenal nilai-nilai yang objektif dari Allah, baik yang bernilai nur maupun yang bernilai dzulumat. Tahap kedua tentunya rnemerangi alam pikiran dzulumat dalam rangka membangun alam pikiran yang bernilai nur.
Mahmud Syaltout mengemukakan bahwa salah satu wawasan yang menjadi fokus dalam kegiatan ijtihad adalah bagaimana usaha untuk memahami makna Alquran dan al Hadis sehingga kesimpulannya menjadi jelas. Seiring dengan itu Mohammad Abduh memandang perlunya peninjauan kembali (re-interpretasi) dalam memahami makna Alquran.
Ijtihada pada Masa Rasul
Pada masa hayat Rasulullah, ijtihad dilakukan oleh setiap kaum muslimin tanpa kecuali, orang tua maupun anak-anak, baik laki-laki maupun wanita. Ijtihad tersebut mereka lakukan dalam rangka memecahkan problem kemanusiaan seutuhnya, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, hankam dan lain-lain. Ijtihad yang mereka lakukan adalah dalam memahami nilai-nilai , luhur yang diberikan oleh Allah. Mereka mempelajari Alquran sampai benar-benar mengerti, dan bahkan sampai menjadi hafal. Mereka dalam belajar Alquran melakukannya pada malam hari, sedangkan di siang hari mereka pergunakan untuk berusaha mencari nafkah. Bentuk pendidikannya bersifat nonformal dan informal, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil di rumah-rumah atau di lingkungan keluarga. Bagi mereka yang mampu, mereka bertanggung jawab untuk menyampaikannya, sedang yang belum mampu, mereka sudi dan lapang dada untuk memperhatikannya, dengan tidak memandang usia, jabatan danI status.
Ijtihad yang diiakukan oleh Nabi Muhammad dan para pendukungnya, dilatarbelakangi oleh krisis nilai dan krisis sosial dalam berbagai segi. Mereka melakukan ijtihad dalam rangka membangun cita-cita yang didambakan oleh setiap insan Alam pikiran materialis, liberalis, ajaran nenek moyang (rasialis) dan hukum rimba, itulah tantangannya. Dengan ijtihad, setahap demi setahap mereka mampu mengubah alam pikiran klasik. Ayat demi ayat yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, cukup membuat Nabi Muhammad dan para pendukungnya memutarbalikkan alam pikiran yang ada yang tidak sesuai dengan Alquran. Konfrontasi kognitif tersebut kadang-kadang membuat mereka menjadi bingung. Kenyataan pola berpikir yang ada, secara terus menerus diadakan penilaian. Ukuran dalam mengevaluasi ia dasarkan kepada wahyu (Alquran). Problem demi problem yang tidak mampu dipecahkan, Allah memberi jawabannya. Atas dasar itulah maka Alquran diturunkan sebagai jawaban terhadap tantangan dan kasus yang terjadi pada masa itu.
Hambatan demi hambatan dan tantangan demi tantangan dengan sendirinya tidak dapat dihindarkan. Bujukan dan rayuan hasutan dan fitnahan yang selanjutnya berubah menjadi ancaman pembantaian, tidak menjadi penghalang bagi mereka yang berijtihad. Muhammad Rasulullah dalam berijtihad tak urung mehgalami tantangan seperti itu, demikian pula para mahasiswanya. Tantangan demi tantangan bahkan merupakan faksinasi bagi mereka dalam berijtihad, sehingga semakin meningkatnya ijtihad mereka untuk menekuni kegiatan yaitu mempelajari Alquran. Mereka senantiasa meminta penjelasan dari Nabi Muhammad apabila menemui permasalahan yang jawabnya masih belum jelas atau masih meragukan. Muhammad melayaninya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan wahyu yang telah ada. Ia menjawabnya kalau memang mengetahui benar-benar, dan ia mengatakan tidak mengetahui kalau ia sendiri belum menerima wahyu. Pernah Muhammad didatangi oleh serombongan pemabuk dan penjudi, agar memberikan ketegasan 'hukumnya .. Muhammad menangguhkan jawabannya, dan ia meminta (berdoa) "Ya Allah terangkanlah kepada kami tentang khamar (minuman keras) dan judi."
Keterangan demi keterangan yang diberikan oleh Nabi Muhammad hanyalah atas dasar wahyu, baik wahyu yang redaksionalnya persis apa adanya(Quran),. maupun yang diberikan kebebasan kepada Nabi untuk menyussun redaksinya (Hadis). Dengan demikian maka ,ijtihad yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para pendukungnya adalah kesungguhan dalam mempelajari dan memaharml Alquran berdasarkan penjelasan-penjelasan dari Sunnah Rasul.
Dengan ijtihad yang demikian ternyata Muhammad dan pera pendukungnya mampu merombak alam pikiran klasik, yang selanjutnya mampu memperbaiki kehidupan seumumnya. Bagaimana dengan ijtihad pada masa-masa selanjutnya? (bersambung)
Demikianlah Artikel IJTIHAD SUATU KEGIATAN ILMIAH, Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan IJTIHAD SUATU KEGIATAN ILMIAH ini, Anda benar2 sudah menemukan informasi yang memang sedang dibutuhkan. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi IJTIHAD SUATU KEGIATAN ILMIAH ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.

