Keteladanan - Pada ulasan terbaru dari blog SUBSAFAN !! kali ini, Akan menginformasikan teman teman pengunjung tentang Keteladanan, Dimana Info yang sudah kami sajikan untuk anda dihalaman singkat ini, Diharapkan bisa terpenuhi semua kebutuhan anda pembaca yang sudah kunjung hadir dan tentunya memang sedang membutuhkan. Sebagai pengunjung halaman situs blog ini, anda juga bisa membaca beragam
Artikel belenggu korupsi
Artikel korupsi
Artikel pemimpin
Artikel pemimpin teladan
Artikel suap
Artikel teladan lain lebih banyak dengan cara melihat Isi Peta dari pada situs ini, Namun terlebih dulu silahkan lansung Membaca Artikel terbaru Keteladanan yang sudah kami siapkan dibawah ini, Untuk mengingatkan kembali bahwa ulasan pada postingan Keteladanan sangat disarannkan untuk bisa disebarluaskan ke social medi Anda, Semoga Bermanfaat, lansung lihat lebih jelas infonya dibawah ini.
Ketika lagu ibu pertiwi terdengar dari vocal seorang bocah, tidak terasa mata sayapun basah. Saya kira Andapun hafal dengan syair tersebut. Namun, tidak ada salahnya kita cermati syair-syair tersebut, dengan harapan dapat menginspirasi kita untuk menapaki kehidupan di tahun 2015. Ini adalah tahun baru. Seharusnya di tahun baru ini kita mendapatkan sesuatu yang baru!
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intan yang kau kenang
Huran gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intan yang kau kenang
Huran gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa
Huran gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa
Entah kenapa? Mungkin karena kecintaan saya terhadap ibu pertiwi, meskipun belum ada yang patut dibanggakan yang pernah saya berikan terhadap tanah air tercinta. Ketika kubuka buku-buku sejarah, terlintas di benak saya penderitaan rakyat ketika dijajah Belanda selama tiga setengah abad, kemudian dilanjutkan oleh bangsa Jepang. Dan, ketika kemerdekaan itu telah diproklamasikan, ternyata prahara itu belum juga usai. Artinya permasalahan-permasalahan berat masih melanda bangsa kita. Contohnya adalah korupsi. Dengan dibentuknya KPK, kita sama-sama tahu bahwa korupsi yang terjadi di negeri ini sudah parah. Jika tidak, ngapain repot-repot membentuk KPK?
Kenapa demikian? Mungkin pertanyaan ini yang sedang dicari jawabannya oleh para cendikiawan bangsa Indonesia. Apakah pemimpin-pemimpin kita memang demen korupsi, atau rakyat juga ikut andil dalam menyuburkan penyakit korupsi? Dalam hal ini pemerintah memang tidak bisa kerja sendirian, tetapi seluruh rakyat juga harus ikut terlibat dalam pemberantasan korupsi jika kita menginkan penyakit ini hengkang dari hadapan kita. Yang di atas memang harus jadi pelopor dan menjadi teladan, tetapi yang di bawahpun tidak bisa cuek membiarkan pemerintah sibuk sendiri.
Ibarat membersihkan rumah, yang di atas seharusnya mendapatkan prioritas, karena jika yang diatas tidak bersih yang bawahpun tidak bersih. Mungkin kita sudah bekerja keras membanting tulang menyapu lantai, mengepel sampai kinclong, tetapi kalau atapnya tidak dibersihkan pasti kotoran akan terus berjatuhan sehingga rumah bersih yang diidam-idamkan tidak pernah terwujud! Salah satu hal penting untuk muwujukan rumah idaman yang bersih, yang di atas harus memberikan contoh atau keteladanan, tidak hanya ngomong doang dengan kata-kata yang menyihir!
Kata keteladanan amat populer dan sering digunakan dimana-mana untuk memberi nasehat. Kata ini memang amat mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Coba lihat saja ketika rakyat mengkritik pemimpinnya, dimana jeritan rakyat sangat mengharapkan keteladanan dari para pemimpin mereka, bukan hanya memerintah saja dan mereka tidak mentaati dengan kebijakan-kebijakan yang mereka buat sendiri. Di dunia pendidikan, kata inipun sangat terkenal. Bahkan menjadi peribahasa yang sudah kita hapal sejak kita duduk di sekolah dasar. Guru kencing berdiri, murid kecing berlari.
Keteladanan memang amat penting. Ia merupakan unsur paling mutlak untuk melakukan perubahan perilaku hidup. Konon, jika dikalkulasi, pengaruh yang diserap melalui mata sebanyak 84%, melalui telinga 11%, sedangkan karena faktor yang lain 5%. Melalui mata (atau keteladanan), artinya apa yang dilihat dan disaksikan akan dicontoh. Melalui telinga berupa nasihat, tausiyah, saran, pendapat hanya efektif mengubah perilaku sebanyak 11%. Artinya, nasehat yang tidak dibarengi dengan keteladanan sebenarnya sama dengan membawa garam ke laut untuk mengasinkan laut. Sebuah pekerjaan yang lebih banyak sia-sia dari pada manfaatnya.
Bagi para orang tua, keteladanan adalah kata kunci untuk mendidik anak-anak mereka. Jika Anda tidak memberikan contoh pada anak-anak Anda, maka Anda jangan terlalu berharap banyak kepada mereka. Bagi tokoh-tokoh masyarakat, jika mereka tidak ingin dilecehkan, mereka harus mengedapankan keteladanan dari pada gembar-gembor tentang kebajikan tetapi mereka tidak pernah melaksanakan apa yang mereka gembar-gemborkan.
Seperti halnya iman, tidak cukup dengan kata-kata saja, tetapi juga harus dengan ucapan dan laku perbuatan. Seperti sabda Rasullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah : Iman itu adalah kepercayaan di dalam hati yang menggema menjadi ucapan dan kemudian diwujudkan di dalam laku perbuatan. Ketiga komponen tersebut harus menyatu jika seseorang menginginkan kesempurnaan iman mereka. Laku perbuatan merupakan manifestasi dari sesuatu yang diimaninya.
Mungkin kita sering gembar-gembor tentang korupsi atau berharap agar korupsi yang busuk itu tidak menjarat kita. Konsekuensinya, jika ingin apa yang kita lontarkan diikuti oleh orang lain dan apa yang kita harapkan jadi kenyataan, maka kitapun harus menjauhkan diri dari korupsi dan saudara-saudaranya. Jika tidak, boleh dikatakan apa yang kita lakukan cuma seperti dagelan atau sandiwara yang penuh kepura-puraan. Seperti seorang pelawak yang tukang bikin ketawa dan senang orang lain, tetapi dirinya stress sendiri hingga terjerumus mengonsumi narkoba yang dilarang agama dan negara.
Di dalam agama islam, bahkan di dalam agama apa saja dan dinegara manapun korupsi itu dilarang. Karena eksistensinya akan menyuburkan kemunkaran dan kedzoliman. Maaf saya tidak perlu mencari dalil yang muluk-muluk, karena saya anggap tindakan ini menurut kesepakatan umum tidak baik. Meskipun orang belum bisa melepaskan diri dari cengkeramannya. Seperti yang kerap kita lakukan, atau barangkali saudara-saudar lakukan, menyuap itu tidak baik, tetapi kadang-kadang kita sering menyuap petugas agar urusan kita lancar dan tidak bertele-tele. Atau, dengan enjoynya tanpa ingat dosa kita menerima uang sogokan dari para caleg agar mau memilih dirinya, atau mungkin pemilihan-pemilihan yang lain tidak terbatas pada caleg legislatif. Padahal, jika kita renungkan, sejati suap merupakan akar dari korupsi. Tetapi sayang, tampaknya masyarakat masih menganggap suap sebagai hal yang wajar, lumrah, dan tidak menyalahi aturan. Jika kita perhatikan, suap terjadi hampir di semua aspek kehidupan dan dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Banyak yang belum memahami bahwa suap, baik memberi maupun menerima, termasuk tindak korupsi.
Contoh paling sederhana dari suap adalah memberi hadiah kepada seseorang atau keluarganya, yang berhubungan dengan jabatan yang dimilikinya, sebagai bentuk terima kasih atas jasa yang diberikan. Tradisi pemberian hadiah yang semula bermaksud baik akhirnya justru disalahgunakan demi keuntungan pribadi dan saling menguntungkan antara pemberi dan penerima.
Aplikasi suap terjadi mulai dari hal yang sederhana dan sepele hingga urusan kenegaraan yang rumit. Suap terjadi mulai dari pengurusan kartu tanda penduduk (KTP) hingga pembuatan undang-undang (UU) di lembaga legislatif.
Dalam masyarakat yang kian materialistis, adagium "tak ada yang gratis" menjadi acuan. Akibatnya, sesuatu yang menjadi kewajiban seseorang, karena jabatannya menjadi "diperjualbelikan" demi keuntungan pribadi.
Selamat tahun baru 2015! Mudah-mudahan tahun depan, bangsa kita telah terlepas dari belenggu korupsi yang menyengsarakan rakyat!
Demikianlah Artikel Keteladanan, Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan Keteladanan ini, Anda benar2 sudah menemukan informasi yang memang sedang dibutuhkan. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi Keteladanan ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.

