Renungan Ramadhan 5 - Pada ulasan terbaru dari blog SUBSAFAN !! kali ini, Akan menginformasikan teman teman pengunjung tentang Renungan Ramadhan 5, Dimana Info yang sudah kami sajikan untuk anda dihalaman singkat ini, Diharapkan bisa terpenuhi semua kebutuhan anda pembaca yang sudah kunjung hadir dan tentunya memang sedang membutuhkan. Sebagai pengunjung halaman situs blog ini, anda juga bisa membaca beragam
Artikel hari raya idul fitri
Artikel hari raya idul fitri 1434
Artikel hari raya idul fitri 1434 H
Artikel idul fitri lain lebih banyak dengan cara melihat Isi Peta dari pada situs ini, Namun terlebih dulu silahkan lansung Membaca Artikel terbaru Renungan Ramadhan 5 yang sudah kami siapkan dibawah ini, Untuk mengingatkan kembali bahwa ulasan pada postingan Renungan Ramadhan 5 sangat disarannkan untuk bisa disebarluaskan ke social medi Anda, Semoga Bermanfaat, lansung lihat lebih jelas infonya dibawah ini.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ . جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِّنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ . كُّلَ عَامٍ وَاَنْتُمْ بِخَيْرِ
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali (hidup dengan ajaran-Nya) dan mendapatkan kemenangan (mampu mengendalikan hawa nafsu kita setelah sebulan berpuasa)
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa puasa romadlon adalah bulan penggemblengan, bulan suci, dimana pada bulan itu seluruh umat islam yang merasa beriman diseru oleh Allah untuk menjalankan puasa. Dengan puasa tersebut kita diharapkan menjadi orang-orang yang bertakwa. Menjadi orang yang mentaati perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Boleh dikatakan shoum/puasa romadlon adalah satu upaya untuk membersihkan atau memperbaiki hubungan kita kepada Allah. Dengan latihan pengendalian hawa nafsu selama sebulan dan melaksanakan amalan-amalan ibadah lainnya, diharapkan kita mampu menjadi orang yang hidupnya selalu dikendalikan dengan ajaran Allah yang termaktub di dalam al-Qur’an, seperti yang diuswahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bukan menjadi orang yang di dalam hidupnya selalu ditunggangi oleh hawa nafsu.
Betapa pentingnya pengendalian hawa nafsu sehingga tidak mengherankan jika seusai Perang Badar (perang melawan kaum musyrik Quraisy di Mekkah) Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada para sahabatnya,“Kita akan menghadapi perang yang lebih besar lagi.
”Para sahabat bertanya kepada Nabi,“Perang apa itu ya Rasulullah?” Nabi menjawab, ”Perang melawan nafsu!”Ini sebagai peringatan Nabi bahwa nafsu dalam diri manusia itu merupakan musuh terbesar. Memerangi bukan berarti membunuh hawa nafsu tetapi mengendalikannya agar berada pada jalur yang benar, yang diridhoi Allah. Mengendalikan hawa nafsu, yaitu menjadikannya sebagai budak kita memang tidak mudah, karena dia tidak terlihat seperti musuh dalam selimut dan selalu siap menerkam manusia yang lalai dalam hidupnya. Ini sangat berbeda dengan musuh di medan perang yang secara fisik bisa dideteksi dan dilawan dengan menggunakan senjata.
Hawa Nafsu seperti pisau bermata dua. Dia menampilkan diri sebagai dua kutub, positif dan negative. Hawa artinya keinginan dan nafsu adalah diri. Hawa nafsu artinya keinginan-keinginan diri. Inilah yang harus dikendalikan, kalau tidak akan kebablasan, ia akan menimbulkan ekses negative yang cepat atau lambat menghancurkan segalanya.
Dalam Al Quran ada contoh tokoh terkenal yang hidupnya mengumbar hawa nafsu. Saya kira setiap orang muslim pasti sudah mengenalnya. Siapa dia? Dia adalah Fir’aun (Pharaoh), kisah Fir’aun merupakan contoh konkret dari seorang raja zalim yang mabuk kekuasaan. Dia memegang kekuasaan tanpa batas, membunuh siapa saja yang menentangnya, bertindak Machiavelistis, dan dengan arogan mengklaim sebagai tuhan. Dan, karena Al-Quran itu merupakan pedoman hidup, anda dapat bercermin dari kisah tersebut untuk melihat Fir’aun-Fir’aun masa kini yang mabuk kekuasaan. Kita dapat melihat pengejawantahannya pada penguasa-penguasa otoriter, dictator dan tiran atau mereka yang bermental Fir’aunisme.
Selanjutnya, nafsu serakah juga dapat membuat manusia menjadi rakus, tamak, dan selalu haus akan harta benda. Dia tidak pernah puas dan selalu ingin memperbanyak harta benda sesuai dengan nafsu serakah yang menguasai dirinya. Dalam memperoleh harta itu, dia tak segan-segan menempuh prinsip menghalalkan segala cara. Baginya, uang dan harta menjadi tujuan hidup dan harta kekayaan itu menjadi ukuran segala-galanya.
Dia sangat mengesampingkan atau bahkan meninggalkan nilai-nilai spiritual dan rohaniah dalam hidupnya. Nafsu bersenang-senang pada manusia dapat membuat dirinya menjadi manusia hedonis-permisif. Gebyar kesenangan duniawi menjadi orientasi dan tujuan utama hidupnya. Manusia hedonis-permisif selalu ingin melampiaskan dorongan hawa nafsunya pada pemuasan seks di luar nikah dan nafsu-nafsu rendah lain.
Setelah menjalani penggemblengan selama satu bulan penuh, jika kita benar-benar ikhlas menjalaninya, seharusnya nafsu-nafsu yang mengajak kita pada jalan kebathilan itu sudah dapat kita kendalikan sehingga kualitas hidup kita meningkat dengan indikasi kita dapat menerapkan nilai-nilai ajaran puasa Ramadan di luar bulan Ramadan. Dengan kata lain, kita hendaknya “berpuasa” di luar bulan Ramadan dalam arti kita mampu mencegah diri dan menahan diri untuk tidak mengumbar nafsu berkuasa yang tanpa batas (absolut, sewenang-wenang, menyimpang dari aturan main, dan bermental Fir’aunisme); menahan diri dan mencegah diri untuk tidak mengumbar nafsu serakah, rakus, dan tamak; dan menahan diri dan mencegah diri untuk tidak mengumbar nafsu bersenangsenang (hedonis-permisif).
Kita berpuasa di luar bulan Ramadan dalam arti menahan diri dan mencegah diri untuk tidak melakukan kebohongan kepada Allah, kebohongan kepada orang lain (publik), dan kebohongan kepada diri sendiri. Dengan kata lain, di luar bulan Ramadan pun kita harus tetap jujur kepada Allah,jujur kepada orang lain, dan jujur kepada diri sendiri.
Jika kita mampu berpuasa di bulan Ramadan dan mampu pula “berpuasa” di luar bulan Ramadan, itu berarti kita berhasil melaksanakan puasa dengan nilai baik. Kita yakin ajaran dan nilai-nilai puasa di bulan Ramadan sangat berkorelasi secara positif dan signifikan dengan “puasa” di luar bulan Ramadan. Jika tidak, pasti ada sesuatu yang salah dengan puasa Ramadan kita. Kita harus introspeksi diri dan sekaligus memperbaiki diri sebelum terlambat! (*)
Demikianlah Artikel Renungan Ramadhan 5, Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan Renungan Ramadhan 5 ini, Anda benar2 sudah menemukan informasi yang memang sedang dibutuhkan. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi Renungan Ramadhan 5 ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.

