Renungan Ramadhan 4 - Pada ulasan terbaru dari blog SUBSAFAN !! kali ini, Akan menginformasikan teman teman pengunjung tentang Renungan Ramadhan 4, Dimana Info yang sudah kami sajikan untuk anda dihalaman singkat ini, Diharapkan bisa terpenuhi semua kebutuhan anda pembaca yang sudah kunjung hadir dan tentunya memang sedang membutuhkan. Sebagai pengunjung halaman situs blog ini, anda juga bisa membaca beragam
Artikel al quran nilai kehidupan
Artikel nilai kehidupan
Artikel sumber nilai kehidupan lain lebih banyak dengan cara melihat Isi Peta dari pada situs ini, Namun terlebih dulu silahkan lansung Membaca Artikel terbaru Renungan Ramadhan 4 yang sudah kami siapkan dibawah ini, Untuk mengingatkan kembali bahwa ulasan pada postingan Renungan Ramadhan 4 sangat disarannkan untuk bisa disebarluaskan ke social medi Anda, Semoga Bermanfaat, lansung lihat lebih jelas infonya dibawah ini.
AL QURAN ADALAH SUMBER NILAI KEHIDUPAN
Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang memuat nilai-nilai kehidupan untuk manusia, baik bagi manusia yang ingin membangun kehidupan yang dicontohkan [secara paripurna] oleh Rasulullah [sebagai pengemban misi suci] maupun para Syaithon dan antek-anteknya [sebagai pengemban misi kebathilan]. Manusia diberi hak memilih mau beriman atau kafir! Di dalam kitab itupun dilukiskan perjuangan mereka dalam menegakkan dan mempertahankan nilai-nilai kehidupan yang mereka cita-citakan. Kita dapat meneladani sepakterjang mereka melalui sejarah para rasul sebagai model kehidupan Nur atau sejarah hidup para penentangnya sebagai model kehidupan dzulumat , semua terlukis di dalam al-Qur’an Dan masing-masing akan mendapatkan kepastian kehidupan sesuai dengan pilihan mereka
Dimaksud nilai di sini adalah kemampuan sesuatu untuk menjadikan sesuatu tersebut menjadi sedemikian rupa. Artinya, sebuah nilai memiliki kemampuan tertentu untuk mengantarkan para pendukung dan penyanjungnya menurut apa yang telah digambarkan oleh nilai tersebut. Sementara itu harga adalah sejumlah pengorbanan yang dikeluarkan untuk memperoleh nilai tertentu.
Untuk memperoleh nilai-nilai di dalam al-Qur’an dibutuhkan harga atau pengorbanan. Salah satu pengorbanan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk memahaminya. Bukan sekedar melalfalkan, melagukan al-Qur’an dengan nada yang mendayu-dayu.
Jika manusia mengabaikannya, enggan menguasai isinya dan [cukup puas] melakukan aktifitas membaca dengan motivifasi semata-mata hanya untuk mendapatkan pahala mesikipun tidak mengerti isinya, maka al-Qur’an tidak akan fungsional di dalam kehidupan. Tidak akan mampu menghadapi keganasan nilai-nilai bathil sebab tidak memahami isinya. Bagaimana mau melawan jika isinya saja tidak kita fahami? Apalagi mau melakukan social change [perubahan sosial].
Ketidakfahaman kita terhadap al-Qur’an akan menempatkan kita menjadi bola permainan kehidupan yang ditendang kesana-kemari oleh para pendukung nilai-nilai bathil demi keuntungan mereka. Jika kita tidak mau merubah diri, menurut pandangan dan penilaian al-Qur’an, kita akan menjadi seperti seekor khirmar yang memanggul kitab kesana-kemari tetapi tidak faham isinya atau seperti binatang ternak;
“Dan sesungguhnya Aku jadikan untuk [kehidupan] jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai (Al A’raaf:179).”
Nilai Khair [nilai yang didakwahkan para rasul]
Manusia dipersilahkan melakukan alternatif terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an tersebut: Masing-masing akan memperoleh kepastian terakhir sesuai dengan nilai yang mereka pilih.
9. Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,
Ayat di atas menyebutkan bahwa al-qur’an itu adalah satu pedomoman hidup yang akan mengantarkan kepada para pendukung dan penyanjungnya ke arah satu penataan hidup yang lebih tangguh. Para mukmin, yang berlaku tepat dengan yang demikian, akan mendapatkan imbalan kehidupan yang agung, yaitu terwujudnya satu tata kehidupan yang saling menghamburkan kasih sayang dan berkeadilan.
Contoh kepastian hidup yang didapatkan para mukmin akibat ketaatan mereka terhadap nilai-nilai al-Qur’an adalah seperti yang terlukis di dalam surat al-Imran ayat 103:
103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Ayat di atas melukiskan nilai kehidupan yang ditawarkan oleh Rasulullah terbukti mampu merevolusikan umat manusia pada saat itu. Mampu merubah masyarakat yang berpecah belah menjadi masyarakat yang saling bersaudara. Mampu meluruskan semua yang bengkok dan mengembalikan manusia kepada kedudukan masing-masing. Masyarakat yang saling berbaku hantam tersebut telah kembali menjadi satu keluarga, mereka mengakui bahwa manusia berasal dari sumber yang sama. Dalam situasi dan kondisi sosial masyarakat seperti inilah seorang Arab tidak lebih utama dari non-Arab, begitu pula sebaliknya, kecuali dalam masalah ketaqwaan mereka kepada Allah. Tidak ada seorang hamba yang lebih unggul dari hamba lainnya, kecuali dalam masalah taqwa. Semua manusia berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah.
Nilai-nilai yang terdapat di dalam al-Qur’an itulah yang telah mampu menumbuhkan pohon kedamaian penuh kasih-sayang dan kemakmuran yang berkeadilan, yang akar-akarnya menghunjam ke perut bumi, dahan dan rantingnya menjulang ke angkasa. Mereka mampu mengujudkan diri menjadi seperti sebuah bangunan, dimana antara bagian yang satu dengan yang lainnya saling menguatkan. Atau seperti satu tubuh, dimana jika ada salah satu anggotanya mengeluh karena sakit yang lainnya ikut merasakan pula.
Ayat diatas melukiskan peristiwa revolusioner yang dialami bangsa Arab akibat tersentuh wahyu, satu perubahan drastis. Sebelum turunnya al-Qur’an bangsa Arab hidup saling bermusuhan, namun dengan tersiraminya hati mereka yang membatu dengan nikmat Allah yang berupa al-Qur’an, hati-hati mereka berubah menjadi lunak sehingga kehidupan mereka menjadi saling bersaudara.
Kondisi yang terjadi saat ini barangkali dapat kita jadikan cermin, sudahkah kita benar-benar kembali pada Al-Qur’an. Atau, agama yang suci itu hanya sekedar dijadikan topeng atau kedok untuk mencapai tujuan lain. Momen ramadhan kali ini, mungkin dapat dijadikan titik tolak untuk meluruskan hati kita, niat kita, dan memantapkan hati kita untuk mewujudkan persatuan. Amiin!
I
Demikianlah Artikel Renungan Ramadhan 4, Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan Renungan Ramadhan 4 ini, Anda benar2 sudah menemukan informasi yang memang sedang dibutuhkan. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi Renungan Ramadhan 4 ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.
