RIBA' HUKUM YANG BOLEH DIAMBIL RINGAN? - Pada ulasan terbaru dari blog SUBSAFAN !! kali ini, Akan menginformasikan teman teman pengunjung tentang RIBA' HUKUM YANG BOLEH DIAMBIL RINGAN?, Dimana Info yang sudah kami sajikan untuk anda dihalaman singkat ini, Diharapkan bisa terpenuhi semua kebutuhan anda pembaca yang sudah kunjung hadir dan tentunya memang sedang membutuhkan. Sebagai pengunjung halaman situs blog ini, anda juga bisa membaca beragam
Artikel ekonomi
Artikel Fiqh
Artikel HUKUM lain lebih banyak dengan cara melihat Isi Peta dari pada situs ini, Namun terlebih dulu silahkan lansung Membaca Artikel terbaru RIBA' HUKUM YANG BOLEH DIAMBIL RINGAN? yang sudah kami siapkan dibawah ini, Untuk mengingatkan kembali bahwa ulasan pada postingan RIBA' HUKUM YANG BOLEH DIAMBIL RINGAN? sangat disarannkan untuk bisa disebarluaskan ke social medi Anda, Semoga Bermanfaat, lansung lihat lebih jelas infonya dibawah ini.

Jumaat lepas saya menemani ibu mertua ke pasar jumaat di tengah-tengah bandar kota bharu. Teringat ada 'miss called' malam tadi yang belum dijawab, saya menelefon balik sementara menunggu mertua dan isteri berbelanja. Dari bual biasa, terkait persoalan riba'. Dia bersimpati dengan sahabat-sahabat yang telah terjerat dengan pinjaman perumahan. Apabila tersedar kesalahan, sangat susah untuk keluar dari jerat riba'. Hendak dihabiskan pembayaran cepat2 tidak mampu, hendak dijual semula untuk langsaikan hutang, jumlah interest masih lagi banyak. Dia menyatakan, kalau di negara arab mereka yang terlibat dengan riba' ini cuma golongan sekular. Statement itu betul2 mengejutkan dan menimbulkan tandatanya kepada saya.
Betulkan ke masyarakat Arab tidak mengambil riba' seperti mana rata-rata Muslim di Malaysia?
Sepanjang pemanduan balik, perkara ini bermain di kepala saya. Rasa seperti ingin menetap sementara di mana-mana negara Arab, memahami budaya mereka. Sampai di rumah, saya terus menelefon sahabat dari negara Arab. Beliau sedang menyambung Master Perakaunan. Dah lama tak menghubungi beliau, saya tanya terus persoalan ini. Dia menjawab ya. Masyarakat Arab memahami riba' sebagai suatu keharaman yang sangat besar, dan mereka tidak berani mengambilnya. Mereka memahami dosa riba itu terlalu besar, seperti bezina dengan ibu sendiri, ia suatu yang amat jelik.
Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad dan ath-Thabrani).
Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang mengawini ibunya. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).
Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Satu dirham riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina dengan pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, “Siapa saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya.” (HR al-Baihaqi dan ath-Thabrani).
Masyarakat sendiri memahami perkara itu dan mereka menolak riba' termasuk mereka yang tidak Islamik. Tamsilannya di Malaysia seperti solat, orang yang tidak begitu menjaga agamanya pun tetap juga menjaga solat.
Saya tanyakan, jika dari 10 orang berapa ramai yang mengambil riba'? Anggaran yang diberi, 2 hingga 3 orang. Menurutnya, memang ramai dijumpai mereka yang sanggup hidup susah untuk mengelak riba', itu biasa. Pernah dia jumpai, sebuah apartment yang dihuni oleh 16 orang semata mereka tak mampu membeli rumah tanpa riba'. Banyak lagi yang diceritakan, membuatkan saya insaf.
Sahabat saya sendiri terkejut apabila datang ke Malaysia mendapati Muslim di sini menganggap riba' itu perkara biasa. Rata-rata orang terlibat dengan riba' untuk membeli rumah dan kenderaan, termasuk mereka yang Islamik, ustaz2, imam2 dan hatta pendakwah. Pelbagai justifikasi diberi.
Saya tanyakan pula berkenaan perbankan Islam. Jawabnya, perbankan Islam di negara Arab berkembang dengan agak perlahan di sana, dan sedang berkembang dengan sokongan dari ulama' seperti Dr Yusof Qardhawy. Tetapi secara umumnya umat masih belum boleh menerima perbaikan Islam atas dua faktor:
a) Ramai para ulama' dan para pendakwah yang menjelaskan kebathilan perbankan Islam. Selain masalah riba', banyak lagi kebathilan yang wujud dalam aqad perbankan Islam, bai' al inah antaranya. Umat mudah memahami perkara ini dan mereka yang memberi justifikasi maslahah itu masih belum dominan.
b) Pemerintah yang ada tidak begitu menyokong perbankan Islam, dan malah tidak membenarkan penggunaan nama Islam. Perbankan Islam tidak dapat promosi dan kemudahan secukupnya seperti mana perbankan konvensional menyebabkan kos perbankan Islam jauh lebih tinggi.
Hal ini membuatkan saya tersentap dan insaf. Betapa, jauhnya kita dari pengamalam Islam, hatta dalam perkara yang qathie seperti riba'. Kita mungkin maju dengan penerapan sistem kapitalisme, tetapi dalam masa yang sama mengambil ringan hukum yang qath'ie ini baik untuk menyambung pelajaran, membeli kereta, kediaman, hatta pinjaman peribadi. Ramai yang menjadikan dharurat, atau maslahah sebagai dalil qath'ie membolehkan riba', tidak lupa perbankan Islam. Maka riba' diperbolehkan, dakwa mereka.
وَأَعَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّ بٰوا (البقرة: ٢٧٥(
Artinya: Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
“Diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud r.a bahwa Rasulullah SAW telah melaknat pemakan riba, yang mewakilinya, saksinya dan penulisnya.” (HR. Abu Dawud dan lain-lain)
Cukuplah ia agar membuat orang-orang beriman akan dosa riba'.
Demikianlah Artikel RIBA' HUKUM YANG BOLEH DIAMBIL RINGAN?, Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan RIBA' HUKUM YANG BOLEH DIAMBIL RINGAN? ini, Anda benar2 sudah menemukan informasi yang memang sedang dibutuhkan. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi RIBA' HUKUM YANG BOLEH DIAMBIL RINGAN? ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.
